find us on : 
bank riau
Halaman Khusus Indragiri Hulu

Refleksi 5 Januari 1949 Sejarah Kelam Kota Rengat


Kamis, 5 Januari 2017 | 18:58:19 | view: 221
ist
Monumen korban kekerasan kolonial Belanda pada 5 Januari 1949 silam di Kota Rengat, Indragiri Hulu, Riau.
Rengat, oketimes.com - Tanggal 5 Januari 1949 silam, merupakan Sejarah Kelam kota Rengat kota Bersejarah. Sedikit flasback kejadian bersejarah tersebut yang dikutip dari situs berita tentang sejarah singkat kota Rengat, bahwa Dua kapal perang milik Belanda yang datang dari arah Tembilahan tiba-tiba berlabuh di Sungai Indragiri, tepatnya Rabu, 5 Januari 1949, sekitar pukul 08.00 Wib.

Demikian yang di katakan Satrio Rachmazan, Ketua Umum Ikatan Mahasiswa Indragiri Hulu (IKAMIHU) dalam siaran persnya, Kamis (05/01/16).

Dikatakan, dari dalam kapal perang bernama Gajah Merah, ratusan pasukan baret merah Belanda atau sering disebut Korp Spesialie Tropen (KST) dibawah komando Kapten Skendel keluar dan membakar Markas Kodim, Markas Polisi, stasiun radio, sentral telepon, gudang pelabuhan hingga Rumah Sakit.
 
Kedatangan dua kapal perang Gajah Merah tersebut setelah sebelumnya pesawat Belanda membombardir Kota Rengat dan menerjunkan pasukan payung. Seketika bunyi bom yang meledak di tanah bersatu dengan pekik histeris warga yang panik.
 
"Dengan senjata otomatis dan modern, pasukan Belanda kian ganas dan kejam. Mereka tidak bisa lagi membedakan yang mana TNI, tentara perjuangan rakyat serta masyarakat sipil yang tidak berdosa. Tentara Belanda menembaki anak-anak, ibu hamil dan orangtua," katanya.

Tak sampai di situ, tentara Belanda kemudian mengumpulkan lebih 2.000 penduduk dari segala penjuru Rengat. Mereka kemudian dibariskan di pinggir Sungai Indragiri dan setelah itu terjadilah pembantaian massal. Sungai Indragiri yang kala itu tengah banjir berubah warna menjadi merah.
 
"Bupati Indragiri, Tulus yang mendapatkan laporan tentang penyerbuan tentara Belanda memilih tetap bertahan di Kota Rengat. Namun ia kemudian ditembak oleh tentara Belanda didepan istri dan anak-anaknya. Jasadnya dibuang di Sungai Indragiri bersama jasad ajudannya, Tandean yang turut ditembak tentara Belanda," tukasnya.

Serangan yang dilancarkan oleh Belanda, adalah upaya Belanda untuk memecah belah kabupaten Indragiri supaya lepas dari NKRI, namun berkat upaya, perjuangan serta pengorbanan para pahlawan yang gagah berani mampu mempertahankan kabupaten Indragiri untuk tetap dalam kesatuan NKRI.

Demikian kisah tragis yang pernah melanda kota Rengat tercinta ini, refleksi kejadian bersejarah kelam ini tentunya harus di jadikan pelajaran berharga bagi masyarakat indragiri hulu betapa besar bencana yang telah melanda negeri para Raja kita ini.

"Terkhusus untuk pemuda/ mahasiswa melalui momentum 5 Januari 1949 ini, saya mengajak kita semua lebih peduli dan perhatian kepada kabupaten Indragiri Hulu, melalui gerakan intelektual seperti lebih giat membaca, lebih mengenal dan memahami sejarah kota Rengat, kerajaan indragiri dan lain-lain yang akan menjadi referensi penting bagi mengisi pembangunan kabupaten indragiri hulu kita ini," ungkap Satrio. (rls)


BERITA TERKAIT:
DJBC Riau Sumbar Selamatkan Rp 45 Miliar Uang Negara
Peduli Banjir, RAPP Kirim Satu Ton Beras untuk Warga Sering Pelalawan
Kombes Pol Johny Edison Isir : Saya Siap Jalankan Amanah Pimpinan
Kapolda Riau Berikan Tugas Khusus untuk Dua Pejabat Teras Utama yang baru dilantik
Gubernur Tinjau Jembatan Siak IV yang Mangkrak
Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca berhak melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Redaksi akan menilai laporan dan berhak memberi peringatan dan menutup akses terhadap pemberi komentar.