find us on : 
bank riau
  • Home
  • Senibudpar
  • Tanjak Dendam Perwujudan Ciri Khas Melayu Riau yang terlupakan

Tanjak Dendam Perwujudan Ciri Khas Melayu Riau yang terlupakan

Laporan : Sulaiman

Sabtu, 11 Februari 2017 | 03:49:40
man
Syamsuar didampingi sejumlah staf mengunjungi Pasar Seni Kesturi untuk bertemu para penggiat dan pengrajin tanjak di sentra cinderamata Kabupaten Siak.
Siak, oketimes.com - Bupati Siak Drs H Syamsuar MSi seolah menyimpan dendam tak sudah untuk membangkitkan kembali kecintaan masyarakat pada tradisi lama. Besarnya rasa cinta pada budaya melayu Riau, diwujudkan dengan inisiasinya pada gerakan "Siak Bertanjak".

Penggunaan kembali salah satu simbol budaya melayu Riau ini, mulai mewabah di tengah masyarakat. Orang nomor satu di Negeri Istana itu pun, tak dapat menyembunyikan rasa bangganya, kini penggunaan tanjak mulai digandrungi banyak kalangan, terutama generasi muda.

Sebagai bentuk dukungan, Syamsuar didampingi sejumlah staf mengunjungi Pasar Seni Kesturi untuk bertemu para penggiat dan pengrajin tanjak di sentra cinderamata Kabupaten Siak. Kehadiran orang nomor satu itu, dimaksudkan untuk memberikan dukungan pada penggiat dan pengrajin tanjak tempatan.

Saat ditemui, Bupati Syamsuar punggawa Komunitas Tanjak Siak Alwindra, mengaku saat ini kewalahan melayani pesanan tanjak yang membludak akhir-akhir ini. "Pesanan yang baru terpenuhi saat ini, sudah tembus 400 buah. Kami menyimpan cita-cita, gerakan Siak bertanjak ini nantinya mampu memecahkan rekor MURI. Dengan capaian peserta bertanjak terbanyak di Indonesia," katanya.

Armand salah seorang pengrajin produk tanjak urban ini, mengaku mampu memproduksi 20 buah tanjak perhari. "Setiap hari begitu selesai diproduksi, barang langsung habis dipesan," sebut salah satu ASN yang sehari-hari disapa Adek ini.

Pada pertemuan itu, Syamsuar memberikan dukungan dan masukan kepada pengrajin tanjak yang ditemuinya. "Pengemasan harus lebih baik, Pemkab akan bantu patenkan produk ini dengan merek Tanjak Siak, supaya orang-orang tau asalnya. Kalau mau cari tanjak yang asli, bolehlah datang ke Siak," sebutnya.

Oleh Komunitas Tanjak Siak, Syamsuar dihadiahi tanjak khusus yang biasa dipakai bangsawan melayu, dengan Ikat Tanjak Dendam Tak Sudah. "Salam tanjak bukan nak melagak, tapi nak budayakan tanjak Siak," ucap Syam melafalkan salam khas komunitas tanjak.

Tak sampai disitu, Datuk Setia Amanah itu juga spontan melontarkan ide terkait tradisi melayu lama lainnya, yaitu Festival Meriam Buluh Betung. Dimana tradisi masyarakat melayu zaman dahulu itu, kata dia akan digelar menjelang hari raya nanti agar suasana meriah.

"Mudah-mudahan suasananya akan meriah, apalagi kalau nanti buluhnya diukir. Peserta harus berpakaian melayu lengkap kopiah dan selempang. Kalau pandai bunyikan, pasti kuat. Kalau tidak, terkadang sejam tau penat meniup ajo, tapi bunyinyo tak kencang," kata Syam disambut gelak tawa yang hadir di pasar seni.

Jelang konferensi Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) yang berencana menjadikan Kota Siak Sri Indrapura sebagai lokasi pelaksanaan, Syamsuar juga mengajak komunitas tanjak untuk mensukseskan dan mengenalkan tradisi melayu kepada tamu yang akan datang.

Ia bahkan juga ingin menunjukkan keindahan arsitektur Balairung Sri, yang dirancang oleh Almarhum Tengku Susido. "Konsep Water Front City itu, sebenarnya telah lama ada di Siak. Lihat saja kehebatan leluhur kita yang mampu membuat bangunan itu di masa 100 tahun yang lalu. Saya juga akan ajak tamu yang datang nanti ziarah ke makam arsiteknya di kampung tengah," pungkasnya.


BERITA TERKAIT:
DJBC Riau Sumbar Selamatkan Rp 45 Miliar Uang Negara
Peduli Banjir, RAPP Kirim Satu Ton Beras untuk Warga Sering Pelalawan
Kombes Pol Johny Edison Isir : Saya Siap Jalankan Amanah Pimpinan
Kapolda Riau Berikan Tugas Khusus untuk Dua Pejabat Teras Utama yang baru dilantik
Gubernur Tinjau Jembatan Siak IV yang Mangkrak
Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca berhak melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Redaksi akan menilai laporan dan berhak memberi peringatan dan menutup akses terhadap pemberi komentar.