find us on : 
bank riau
  • Home
  • Profil
  • Napak Tilas AKBP Juang Andi Priyanto Dibalik Pengungkapan 40 Kg Sabu dan 160 Ribu Ekstasi

Napak Tilas AKBP Juang Andi Priyanto Dibalik Pengungkapan 40 Kg Sabu dan 160 Ribu Ekstasi


Selasa, 18 April 2017 | 13:36:10
ist
AKBP Juang Andi Priyanto SIK,SH,M Hum.
Pekanbaru, Oketimes.com - Masyarakat Riau, khususnya Kota Pekanbaru dihebohkan dengan kasus pengungkapan 40 kg sabu dan 160 ribu pil ekstasi berbagai merek yang dilakukan oleh Dit Resnarkoba Polda Riau di Jalan Lintas Pekanbaru Siak, tepatnya di Simpang Buatan 4 Siak pada Jumat (07/4/2017) malam sekitar pukul 23.30 WIB.

Di balik pengungkapan narkoba jaringan internasional itu, ada sosok perwira polisi yang mempunyai peran besar dalam penangungkapan kasus narkoba bernilai puluhan milyar itu. Namanya Juang Andi Priyanto, pangkatnya kini Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP).

Kiprahnya mulai dibicarakan oleh banyak orang di Riau, padahal ia belum lama bertugas di Polda Riau. Keberhasilan yang diraihnya, sebelum ini dalam membongkar dan meluluh lantakkan jaringan pemasok 40 kilogram sabu jaringan international di wilayah Riau, telah melambungkan namanya sebagai perwira menengah di Polda Riau.

Berikut bincang-bincang santai antara awak Tribrata News Polda Riau dan awak media ini bersama AKBP Juang, Senin (17/4/2017) yang menceritahkan sedikit banyak tentang kiprahnya selama sebelum dan sesudah menjadi anggota Polri.

Latar belakang masa kecil bapak, saya terlahir dari keluarga besar Tentara, bapak saya itu Serka Tabroni WS, hingga pensiun beliau mengabdi sebagai prajurit  Kopassus.

Ibu saya seorang guru SD bernama Ibu Sarimanah. Saya dilahirkan saat bapak saya masih bertugas di Timor Timor dalam Operasi Seroja. Waktu saya lahir saya dinamai dengan nama Sarwo Edhi Wibowo.

Komandan Kopassus saat itu !. Hahahaha…. ya…. Kurang lebih demikian. Namun terakhir bapak saya merubah nama saya menjadi Juang Andi Priyanto. Dan nama itulah yang kemudian saya pakai hingga dewasa.

Bapak saya khawatir saja, jika nanti saya besar dan jadi tentara kayak dirinya, sementara saya hanya berpangkat Kopral seperti dirinya, tentu lucu Jenderal Sarwo Edhie Wibowo, tapi di saya malah jadi Kopral Sarwo Edhie wibowo, makanya namanya saya dirubah beliau.

Orang tua saya, seorang yang tulus mengabdi untuk bangsa ini, beliau juga mengajarkan nilai-nilai ini pada anak anaknya, termasuk saya tentunya, untuk selalu tulus mengabdi pada kemanusiaan. Teladan dari bapaklah yang akhirnya mengantar saya untuk jadi Polisi.

Bapak tidak dimasukkan jadi Tentara sebagaimana profesi orang tua bapak ? Justru beliaulah yang meminta saya untuk jadi Polisi. Menurut bapak saya, di TNI dan di Polisi itu sama sama mengabdi pada kemanusiaan, namun kalo di Kepolisian itu setiap saat tugasnya bener bener waktu untuk mengabdi pada kemanusiaan 24 jam nonstop.

Bukan berarti mengecilkan arti dan kiprah TNI, sama sekali bukan. TNI itu ladang pengabdian pada kemanusiaan. Polri juga sama, namun di Kepolisian kita bener bener adalah pelayan, pelindung dan pengayom masyarakat.

Itukah yang jadi alasan bapak akhirnya mantap masuk Polisi? Kalo keputusan masuk Polisi banyak alasannya, juga karena ada pengalaman yang sangat berkesan pada seorang Polisi di kampung saya di Sidoarjo Jawa Timur. Saat itu ibu saya yang guru SD membonceng saya naik sepeda motor, waktu itu bapak saya masih tugas di Timor Timur.

Lalu sepeda motor ibu saya bannya bocor dan ada seorang Polisi yang membantu ibu saya mendorong motornya mencari tempat tambal ban sampai motor ibu saya ban motornya bagus kembali. Kejadian ini bener bener berkesan bagi saya dan makin membuat saya yakin bahwa ladang pengabdian saya kepada kemanusiaan di waktu saya besar nanti adalah Kepolisian.

Dan akhirnya cita citanya kesampaian….?? Ya….. setamat SMA saya mencoba masuk Akpol tahun 1994 dan lulus. Saya dilantik tahun 1998, langsung ditugaskan di Polres Sampit Polda Kalimantan Tengah, waktu itu ada kerusuhan berbau SARA dimana pendatang etnic Madura dikejar kejar dan dibunuh penduduk lokal.

Namun di Polsek saya saat itu, Zero Accident. Karena sebelum perusuh datang ke kecamatan saya, para pendatang dari Madura sudah lebih dulu saya ungsikan ke Jawa Timur dan pimpinan menilai kesigapan itu sebagai sebuah langkah yang jitu dan saya juga diberikan reward karena kecamatan dimana saya bertugas jadi Kapolsek Jenamas - Buntok adalah satu dari sedikit saja Polsek yang tidak ada kejadian berdarah atas nama SARA.

Yang berkesan itu, adalah saat saya menjabat Kasat Narkoba di Polres Tangerang, saya sempat mengungkap kasus Narkoba dari para penyelundup warga Nigeria dengan modus menelannya.

Apa yang bapak lakukan pada warga Nigeria itu…?? Waaaaah…. Itu ada lucu lucunya loh…. Mengungkap jaringan ini rada rada gampang tapi sekaligus bikin ketawa. Kalo udah ada warga Nigeria yang masuk bandara saya suruh minum dia, kalo dia takut minum maka itu pasti bawa Narkoba itu.

Karena dia bawa Narkoba dengan cara di telan. Mereka dari Hongkong itu gak minum minum, agar sesampainya di Jakarta segera ditolong oleh teman temannya untuk segera BAB dan kapsul Narkoba yang ditelannya keluar melalui tinja. Naaah kalo dia minum, itu kapsul berisi narkoba yang ia telan akan pecah.

Jadi kalo ada warga Nigeria yang masuk, saya sodorin air minum, kalo dia berani minum artinya aman, kalo dia ketakutan minum artinya dia bawa Narkoba. Dan saya juga berhasil mengungkap kasus itu, hingga akhirnya ada tiga belas warga Nigeria ditangkap oleh anak buah saya di Sat Narkoba Polres Tangerang.

"Saat itu Kedubes Nigeria termasuk pimpinan Polri juga memberikan Penghargaan pada saya dan anak buah saya di Sat Narkoba Polres Tangerang," ungkapnya.

Pengalaman bapak masuk ke Riau …? Nah ini…. Saya masih baru lo mas di Riau ini, tapi Alhamdulillah kemaren itu kita berhasil menangkap satu kilo sabu dengan empat ribu butir pil ekstasi dan yang terakhir ya yang penghargaan tadi siang itu, penghargaan dari pimpinan karena keberhasilan team Direktorat Narkoba Polda Riau mengungkap penyelundupan sabu sindikat International sebesar empat puluh kilogram sabu dan ektasi sebanyak 160.000 butir Ektasi.

Butuh waktu berapa lama untuk mengungkap kasus besar terakhir yang empat puluh kilo Shabu…? Kita butuh waktu sekitar dua bulan untuk mempelajari tindak tanduk tersangka, kita membututi mereka, mempelajari kebiasaan kebiasaan mereka da tentu saja semua itu butuh waktu dan kesabaran penuh.

Adakah bapak merasa lelah dengan ritme tugas yang demikian tinggi…??  Gak lah mas. Soalnya ini semua adalah kerja Team. Keberhasilan membongkar jaringan Narkoba International ini ni bukan kerja “AKBP Juang” secara pribadi.

Yang ada adalah nama besar institusi Polri dan kebetulan saja bahwa saya berada di dalam Team Work soal Narkoba ini di Direktorat Narkoba Polda Riau. Tanpa ada saya sekalipun Organisasi ini akan tetap berjalan dengan baik….

Tapi kan tidak bisa dipungkiri bahwa sosok AKBP Juang adalah motor penggerak dari Operasi senyap dalam meringkus bandit Bandit Narkoba Intrenational ini !. Ndak lah mas…. Saya secara pribadi itu gak penting.

Sekali lagi yang penting adalah institusi Polri dan tentu juga adalah keselamatan warga kita. Coba mas pikir kalo empat puluh kilo itu lepas ke masyarakat kita. Berapa ratus ribu nyawa akan bisa melayang karena kecanduan sabu. Itu jauh lebih penting dibanding saya secara personal mas.

Adakah keinginan bapak agar UU Narkoba direvisi dengan hukuman yang lebih keras ? Pasti itu…. !! Sebetulnya kita ingin agar pelaku pelaku pengedar antar negara yang memang cukong besar ini sebaiknya dipastikan dihukum dengan hukuman mati dan dengan UU TPPU mereka ini layak dimiskinkan, seluruh hartanya disita untuk negara. Jangan ada tempat lagi bagi para pengedar dan cukong besar Narkoba ini….
 
Pesan bapak untuk seluruh warga kita ? Saya ingin sampaikan bahwa Narkoba adalah musuh bersama. Tanggung jawab pemberantasan Narkoba tidak hanya ada pada pihak Kepolisian. Mari kita sadari bahwa Riau sudah jadi “gerbang masuk” dari sindikat Narkoba antar negara.

Pengakauan si Nofredi yang barusan kita tangkap ini sudah 6-7 kali memasukkan Narkoba ke Indonesia. Coba bayangkan seandainya jaringan International seperti mereka ini memasukkan dalam jumlah yang sama setiap beraksi, artinya 40 kilo kali 7 artinya setara dengan 280 kilo shabu. Gimana rusaknya warga kita gara gara Narkoba ini.

"Nah untuk pencegahan ini bener bener dibutuhkan kerja seluruh aparatur negara termasuk keikut sertaan semua lapisan masyarakat," pungkas AKBP Juang.

Terakhir saya juga ingin mengucapkan terima kasih yang setulus tulusnya pada Bapak Kapolda Riau, Irjen Pol Zulkarnain karena selama ini saya dan team saya di Direktorat Narkoba di dalam melaksanakan tugas tugas kami sudah pasti selalu berlindung dibalik nama besar beliau, tanpa adanya pimpinan yang melindungi dan mensupport setiap gerak langkah team kami maka kami ini tidak ada apa apanya.

Juga tak lupa pada Kombes Pol Hariono, Direktur Narkoba Polda Riau karena beliau jugalah kami bisa bekerja dilapangan dengan baik

Demikianlah wawancara eklusif ini, kami hadirkan pada seluruh pembaca, dengan harapan agar kita semua bener bener menjaga anggota keluarga kita dari bahaya Narkoba yang bisa mengintai kapan saja. Semoga kedepan Indonesia bener bener bisa bebas dari pengaruh Narkoba. Amin...

BERITA TERKAIT:
Kapolda Riau Ajak Masyarakat Pererat Hubungan Silaturahmi
Kapolda Riau Tinjau Kesiapan Pos Pom di Inhu
Polda Riau Berangkatkan 12 Siswa Terpilih Ikuti Tes Tamtama di Pusat
Lantik 64 Pejabat Eselon II, III dan IV, Suyatno : Bekerjalah dengan baik, jangan neko-neko
Safari Ramadan, Kapolda Riau Ajak Warga Pekanbaru Jaga Pesratuan dan Kesatuan
Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca berhak melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Redaksi akan menilai laporan dan berhak memberi peringatan dan menutup akses terhadap pemberi komentar.