find us on : 
bank riau
  • Home
  • Iptek
  • Malam Ini, Seluruh Mata Dunia Bisa Saksikan Fenomena Supermoon

Malam Ini, Seluruh Mata Dunia Bisa Saksikan Fenomena Supermoon


Senin, 14 November 2016 | 16:35:25
Sillouettes
Ilustrasi, Penampakan Supermoon 2016.
Fenomena Supermoon terbesar sepanjang abad 21 yang terjadi hari ini dan besok (15/11/16) sudah bisa mulai diamati. Itu terjadi sejak bulan terbit di ufuk Timur (sekitar pukul 17.39 WIB) hingga Maghrib sampai terbenam di ufuk Barat.

Kepala Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (LAPAN), Thomas Djamaluddin menjelaskan Supermoon adalah bulan purnama terbesar dan paling terang, sehingga pengamatannya sama seperti pengamatan bulan purnama pada umumnya, sehingga cenderung tak membutuhkan alat khusus.

"Supermoon adalah purnama yang terdekat, terbesar, dan paling terang. Jadi pengamatan sama dengan pengamatan purnama umumnya. Bisa diamati sejak terbit di ufuk Timur, saat Maghrib sampai terbenam di ufuk Barat," jelas Thomas dikutip dari Antaranews Senin (14/11/16).

Hanya saja, pengamatan bisa terganggu cuaca, misalnya awan atau pun hujan. Namun, Thomas meyakinkan bahwa biasanya masih ada peluang melihat penampakan bulan purnama.

"Kalau terhalang awan, tidak mungkin melihatnya. Tetapi biasanya semalam suntuk ada saja peluang awan tersibak yang menampakkan purnama," kata dia.

Dalam kesempatan berbeda, Wakil Presiden Komunitas Atronomi Populer Robin Scagell seperti dilansir Telegraph mengatakan pegunungan dan lautan bisa menjadi alternatif lokasi melihat penampakan supermoon.

"Saya selalu senang melihat orang menggunakan teropong mereka keluar dari rumah untuk melihat fenomena ini misalnya dari lautan," kata dia.

Saat berada dalam posisi lebih dekat dan lebih cerah penampakannya, bulan akan terlihat oranye dan merah.Namun, setelah dia berada di posisi yang semakin tinggi di langit, warnanya akan kembali putih atau kuning.

Fenomena alam yang disebut supermoon ini terjadi saat bulan mencapai titik terdekat dengan bumi dalam kondisi bulan penuh atau purnama. Supermoon kali ini sangat istimewa karena akan menjadi supermoon terbesar selama 68 tahun sejak 1948.
 
Menurut badan antariksa Amerika, National Aeronautics and Space Administration, bulan tak akan mencapai titik sedekat ini dengan Bumi hingga 25 November 2034.

Christoper Palma mengatakan, selama setahun, jarak bulan dengan bumi bervariasi antara 350 ribu Kilometer hingga 400 ribu Kilometer. Palma adalah Senior Lecturer and Associate Department Head for Undergraduate Programs in Astronomy & Astrophysics di Pennsylvania State University.

Bulan membutuhkan waktu 27,3 hari dari titik terdekat ke titik terdekat selanjutnya. Waktu ini lebih pendek dari fase penuh bulan, yakni 29,5 hari. “Karena perbedaan waktu ini, fase bulan saat berada di titik terdekat dengan bumi sangat bervariasi,” kata Palma.

Orbit bulan saat mengelilingi bumi tak bulat sempurna. Artinya, bulan punya jarak terdekat dan terjauh dengan bumi. Terkadang titik terdekatnya terjadi saat bulan penuh, atau saat bulan masih muda. Kapan pun fasenya, jika berada di titik terdekatnya dengan bumi, bulan akan terlihat lebih besar.

Titik terdekat bulan dengan bumi disebut perigee, dan titik terjauhnya disebut apogee. Saat bulan penuh terjadi di perigee, maka terjadilah supermoon. Saat terbaik melihat fenomena alam ini adalah pukul 06.22 Eastern Standar Time atau 18.22 WIB.

Noah Petro, Deputy Project Scientist untuk NASA Lunar Reconnaissance Orbiter (LRO), mengatakan hampir tak ada perbedaan jarak bulan dengan bumi setiap malam hingga 14 Desember. Jadi, Anda punya waktu cukup lama untuk menikmati fenomena alam ini.***/ant/tempo.



BERITA TERKAIT:
Aktivis Desak DPRD Stop Paripurna RTWP Riau 2016-2035
Bupati Hadiri Peringatan HAN 2017 dan Pelantikan HIMPAUDI Inhil Periode 2016-2020
Kontingen Garuda Unifil 2016-2017, Gelar Salat Ied 1438 H di Lebanon
Kabupaten Pelalawan Ranking I Hasil UASBN SD/MI 2016-2017 di Riau
Bupati dan Wakil Ketua DPRD Bengkalis Terima WTP Tahun 2016
Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca berhak melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Redaksi akan menilai laporan dan berhak memberi peringatan dan menutup akses terhadap pemberi komentar.