find us on : 
bank riau
  • Home
  • Hukrim
  • KPK Tahan Ketua PT Manado dan Anggota DPR RI

KPK Tahan Ketua PT Manado dan Anggota DPR RI


Minggu, 8 Oktober 2017 | 03:13:59
ist
Penyidik KPK menunjukkan bukti uang suap ribuan dolar Singapore saat yang mencapai 1 miliar saat menggelar konfrensi Persnya di Gedung KPK Jakarta, Ketua PT Menado Sudiwardono, dan seorang anggota Komisi XI DPR Fraksi Golkar, Aditya Anugerah Moha, Keduanya dijebloskan ke Rutan KPK, pada Minggu (8/10/2017) dini hari.
Jakarta - Komisi Pemberantasan Korupsi akhirnya resmi menahan Ketua Pengadilan Tinggi Manado, Sudiwardono, dan 1 anggota Komisi XI DPR Fraksi Golkar, Aditya Anugerah Moha, Minggu (8/10/2017) dini hari.

Penahan tersebut dilakukan KPK, karena diduga terkait suap perkara banding tindak pidana korupsi yang sedang ditangani Pengadilan Tinggi Manado.

Juru bicara KPK, Febri Diansyah, mengatakan, keduanya ditahan di dua rutan berbeda. Aditya ditahan di Rutan Kelas I Jakarta Timur Cabang KPK, sementara Sudiwardono ditahan di Rutan Kelas I Jakarta Timur Cabang KPK yang berlokasi di Pomdam Jaya Guntur.

"Keduanya ditahan selama 20 hari pertama," kata Febri dalam keterangan persnya kepada sejumlah awak media, di gedung KPK minggu dini hari tadi.

Dalam pantauan awak media, usai diperiksa kurang lebih 1x24 jam, Sudiwardono dan Aditya langsung mengenakan rompi oranye, dan digiring ke mobil tahanan.

Sudiwardono masuk lebih dulu ke dalam mobil tahanan, disusul Aditya setelahnya. Sudiwardono nampak tak bergeming, dan menghiraukan pertanyaan wartawan.

Sementara Aditya sempat mengeluarkan pernyataannya, dengan memohon maaf kepada masyarakat Sulawesi Utara, yang menjadi dapilnya.

"Permohonan maaf sebesar-besarnya pada seluruh masyarakat dan tentunya teristimewa di dapil saya di Sulut khususnya di Bolaang Raya," ucap Aditya menjawab pertanyaan awak media.

Sebelumnya, KPK mengamankan 5 orang termasuk Sudiwardono dan Aditya dalam operasi tangkap tangan di sebuah hotel kawasan Pecenongan, Jakarta Pusat, Jumat (6/10/2017). Ketiga orang lainnya itu, adalah Y selaku istri Sudiwardono, serta YM dan M sebagai ajudan dan sopir Aditya.

Istri Sudiwardono nampak keluar terlebih dahulu usai pemeriksaan. Ditemani seorang wanita di sampingnya, dia tidak memberikan pernyataan ke wartawan, dan langsung menuju mobil pribadinya di luar Gedung KPK.

Begitu pula dengan ajudan dan sopir Aditya, yang keluar dari gedung KPK dengan kepala menunduk - menghindari kejaran wartawan. Status ketiganya saat ini masih menjadi saksi dan tidak ditahan.

Suap antara Aditya dengan Sudiwardono, diduga terjadi untuk mempengaruhi putusan banding atas terdakwa Marlina Moha Siahaan, Bupati Kabupaten Bolaang Mongondow dua periode di kasus korupsi. Aditya adalah anak Marlina, sehingga suap diduga diberikan agar penahanan Marlina tidak dilakukan.

Sudiwardono dan Aditya Moha dijerat dengan pasal berbeda. Sudiwardono dikenakan Pasal 12 huruf c atau a atau b atau Pasal 11 UU No. 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yang diubah menjadi UU No. 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Korupsi.

Sedangkan, Aditya disangkakan pasal 6 ayat 1 huruf a atau b atau Pasal 13 UU Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah menjadi UU Nomor 20 Tahun 2001, demikian diberitakan kumparan.com.***

BERITA TERKAIT:
Tolak PHK Buruh HTI, 10 Ribu Anggota K-SPSI Bakal Turun ke Jalan
Kapolres Sesalkan PNS Terlibat Narkoba, Karutan : Sanksinya Dipecat
Polda Riau Tahan Tiga Tersangka Korupsi Terminal Barang Dumai
Menjanda 5 Tahun, Oknum PNS Rutan Terlibat Narkoba Hamil
Rekrutmen Anggota Polri 2018, Pemkab Siak Teken MoU dengan Polres
Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca berhak melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Redaksi akan menilai laporan dan berhak memberi peringatan dan menutup akses terhadap pemberi komentar.