find us on : 
bank riau

Dumai Menukar Dolar dengan Mangrove

Penulis: Munazlen Nazir

Minggu, 16 April 2017 | 23:40:34
len
Rombongan Safari Jurnalistik PWI Riau ke Dumai 14-15 April 2017.
Dumai, Oketimes.com - Siapa yang tidak mengenal nama kota yang berada di pesisir Provinsi Riau ini. Mungkin orang lebih mengenal Dumai dari pada kota-kota lainnya di Riau.

Dumai is a Petrolium City, Petro Dollars dan banyak sebutan yang sejenis itu. Kota minyak yang sudah menjadi idola bagi perusahaan asing untuk membuka kantor dan wilayah eksplorasinya. Dan Dumai harus diakui lebih hot dibandingkan Riau secara keseluruhan.

Dahulu, sewaktu masih sekolah di Sumatera Barat, saya mengenal nama kota ini sebagai sebuah kota tempat liburan, karena salah seorang adik ibu saya merupakan karyawan di PT Caltex Pacific Indonesia yang sekarang berubah nama jadi PT Chevron Pacific Indonesia, Kota minyak kata kami dulu. Karena eksplorasi yang dilakukan perusahaan Amerika itu begitu terkenalnya dan menjadi bagian terpenting dari pertumbuhan Dumai.

Pasca reformasi dan munculnya otonomi daerah upaya pengembangan potensi daerah semakin menggebu, termasuk di Riau umumnya dan Dumai khususnya.

 Kemudian Dumai bukan saja dikenal sebagai kota Petro Dolars karena minyak bumi, tapi lebih berkembang dan semakin hari semakin mengukuhkan potensi eko wisata dan alam menjadi bagian terpenting selain investasi asing di migas.

Maka, ketika rombongan Safari Jurnalistik PWI Riau ke Dumai 14-15 April lalu, kami dibawa menjelajahi kawasan wisata alam mengroove di pesisir pantai Marina Dumai Barat.

 Hal ini menjadi bukti keseriusan pemerintah Kota Dumai untuk mengembangkan potensi yang diakui sebagai kawasan terkaya menyimpan ekosistem mengroove dunia ini.

Sejak tahun 2010-1011, Pemko Dumai sudah melirik potensi wisata ini. Dari segi pembangunan infrastruktur, Pemerintah Kota Dumai bisa dibilang berhasil.

Berbagai proyek pengerjaan jalan, jembatan dan drainase digesa penyelesaiannya hingga tahun ini untuk mewujudkan cita-cita tersebut. Dan dalam kunjungan itulah kami mendapat cerita dari Indra Gunawan, salah seorang tenaga kebersihan yang berpartisipasi aktif memelihara dan menjaga ekosistem bakau yang ada di Pantai Marina itu.

Diceritakan Indra Gunawan, salah seorang abangnya bernama Darwis Mohd Saleh memulai upaya pengembangan kawasan hutan Bakau ini tahun 1999. Tempat ini bernama Bandar Bakau di Muara Sungai Dumai, dimana terdapat sedikitnya sebelas hektar wilayah konservasi mangrove. 

Berdasarkan hasil pendataan setidaknya terdapat 16 jenis bakau yang dikatergorikan sebagai mangrove sejati dari 8 family/ keluarga bakau. Serta sejumlah 22 jenis mangrove ikutan atau asosiasi.

 Sedangkan berdasarkan total keberadaan hutan mangrove yang berada di pesisir Kota Dumai, terdapat 23 jenis mangrove sejati dan 22 jenis mangrove ikutan/ asosiasi. Jumlah ini merupakan setengah dari jenis mangrove sejati di Indonesia yang jumlahnya hanya 47 jenis.

”Lebih dari 12 tahun Pak Darwis mengelola tempat ini. Dengan perjuangan yang tidak sedikit, hingga hutan mangrove ini menjadi salah satu harta bagi Kota Dumai. Dengan fungsi mangrove yang bisa menahan abrasi, tentu saja wilayah konservasi ini merupakan jantung masyarakat Dumai. Bisa dibayangkan jika wilayah ini tidak ada, generasi berikutnya mungkin saja akan kesusahan mendapatkan air tawar karena air sumur pun sudah berubah menjadi asin,” ujar Indra.

Dari keterangan salah seorang penduduk di dekat wilayah konservasi ini, kini semakin diperhatikan masyarakat. Tidak sedikit pengunjung yang datang setiap harinya. Banyak kegiatan yang sengaja digelar di tempat ini karena memang Bandar Bakau memiliki Balai-balai yang bisa digunakan untuk yang ingin berkumpul di sana.

Data dari internet diketahui pada tanggal 22 Januari 2012 yang lalu masyarakat  sudah ikut berpartisipasi dalam sebuah kegiatan penanaman pohon mangrove yang diberi nama “Mangrove Untuk Dumai”. Sebanyak 1.200 bibit pohon ditanam oleh mangrover yang berasal dari Kota Dumai dan beberapa daerah lainnya. Pelajar, mahasiswa, komunitas dan masyarakat semua ikut dalam kegiatan tersebut. 

Menanam saja tidaklah cukup tanpa adanya perawatan yang baik dari pihak pengelola Bandar Bakau. Tetapi momen ini paling tidak menandai betapa masyarakat sangat memperhatikan kotanya sendiri dengan ikut mendukung apa yang diprogramkan oleh Darwis.

Organisasi penggiat lingkungan, Pencinta Alam Bahari (PAB) Club Kota Dumai menyatakan bahwa konservasi bandar bakau dengan keanerakaragaman 24 jenis mengroove di Kecamatan Dumai Barat pernah meraih penghargaan nasional dan provinsi. 

Selain itu, ditetapkan sebagai konservasi mangrove terlengkap di Provinsi Riau dan sering menjadi penelitian ilmiah para ilmuwan maupun akademisi di bidang lingkungan.

Terdapat 24 spesies mangrove di kawasan hutan bandar bakau ini, salah satunya adalah bakau istimewa yang saat ini diperjuangkan untuk dilestarikan kembali oleh Darwis dkk, yaitu Belukap. 

Belukap (rhizophora mucronata) merupakan salah satu jenis bakau yang mengalami kepunahan di sungai Dumai. Ciri-cirinya memiliki pohon dengan ketinggian mencapai 27 meter dan jarang melebihi 30 meter. Diameter batangnya mencapai 70 Cm dengan kulit kayu berwarna gelap.

Kepunahan ini akibat ekploitasi bakau sebagai bahan baku arang dulunya, dimana Panglong (tempat produksi arang) terdapat di Pangkalan Bunting di muara Sungai Dumai. Kegiatan ini salah satu contoh memperlakukan alam tanpa memikirkan generasi ke depan, tebang tanpa ada aksi penanaman kembali, akibatnya telah terjadi kepunahan jenis bakau ini di sungai Dumai bahkan generasi Dumai saat ini sudah tak mengenalinya lagi.

Saat ini pengelola dibantu oleh Pemko Dumai melalui Dinas Priwisata mengaktifkan potensi wisata alam  ini dengan menggelar kegiatan yang diadakan di hutan Bandar Bakau ini adalah  seperti Bank Mangroove (pusat budidaya pembibitan dan penanaman mangroove), Sekolah alam Bandar Bakau, Pembersihan sungai dan pantai, Pusat informasi mangrove dan Explorasi potensi wisata Bandar Bakau.

Dari cerita itu diketahui bahwa sebelum masuk ke Bandar Bakau, pernah dibangun “Rumah Masyarakat Dumai” yang dibangun dengan APBD Kota Dumai yang direncanakan dibuat berhadapan. Pengelola Bandar Bakau atau Pecinta Alam Bahari pun kini sudah mulai membenahi fasilitas-fasilitas yang ada. Di depan pintu masuk sudah dibangun tempat untuk pedagang oleh-oleh dan juga kantin.

Jadi, bagi yang ingin ke Bandar Bakau, bisa langsung ke Jalan Nelayan Laut Ujung. Ingat, jangan merusak keindahan Bandar Bakau ya, buang sampah di tempat yang sudah disediakan pengelolanya.

Sekolah Alam

Salah satu bagian dari wilayah atau kawasan Ekowisata Bandar Bakau Dumai adalah  Sekolah Alam Bandar Bakau Dumai yang letaknya di bagian depan  dekat pintu gerbang masuk hutan bakau. Banyak buku-buku yang tersusun di rak. Umumnya buku untuk anak-anak SD. Karena di perpusatkaan yang sederhana itu setiap hari Ahad ada sekolah alam untuk anak-anak sekitar lokasi.

Sekolah Alam Bandar Bakau berlokasi di Jalan Nelayan Laut Ujung-Dumai-Riau yang tepatnya berada di Kawasan Bandar Bakau Hutan Mangrove Kuala Sungai Dumai. Kawasan ini luasnya sekitar 31 hektar yang awalnya diperuntukkan bagi perluasan pelabuhan Pelindo Dumai.

Darwis dan kawan-kawannya memperjuangkan agar kawasan ini tetap menjadi Hutan Mangrove Dumai dan berusaha menjadikan kawasan ini berstatus Hutan Kota Dumai.

Sayangnya, waktu kunjungan kami hari Sabtu jadi tidak bias menyaksikan aktifitas anak-anak di sekolah alam ini secara langsung kecuali hanya memandangi rak-rak penuh buku dan gazebo kecil yang ditempati anak-anak saat belajar disana.

Sebelumnya, Walikota Dumai Zulkifli AS mengatakan Wisata Alam Mangroove di Pantai Barat Dumai ini akan menjadi ikon wisata Kota Dumai. Kota Dumai yang dikenal dengan Riau daratan memiliki potensi wisata pantai dan mangrove. Dengan pengembangan kedua wisata tersebut nantinya akan dijadikan ikon Kota Dumai.

Menurut Walikota Dumai ini, Kota Dumai memiliki prospek kedepan yang gemilang, apalagi kalau jalan tol dan kereta api sudah beroperasi. Setidaknya, masyarakat dari kabupaten/kota lain sekitar Dumai mau melihat pantai bisa datang ke Dumai," ujarnya di hadapan puluhan wartawan media cetak, online dan elektronik yang mengikuti Safari Jurnalistik dari Pekanbaru Sabtu 15 April 2017.

Menurutnya, pantai di Dumai dan kawasan mengroove perlu dibenahi. Disamping Kota Dumai, juga merupakan kawasan industri. Meskipun demikian, tempat wisata pantai di Dumai telah dilakukan pengembangan sebelumnya, namun ada yang perlu dilakukan peningkatan.

"Masyarakat memang haus akan hiburan. Untuk itu, perlu kita perhatikan bagaimana masyarakat yang singgah di Dumai merasa betah. Karena Dumai memiliki tempat wisata yang representatif," jelasnya.

Dumai, Kota Petro Dollars yang ibarat gula digandrungi semut, mulai berbenah untuk menukarkan dolarnya dengan mangroove.

Jadi, bila berkunjung ke Dumai sekarang kita punya pilihan lain selain ke kawasan industri ataupun kilang Putri Tujuh juga ke pantai atau hutan bakau yang mulai dibenahi.***

BERITA TERKAIT:
Polisi Dalami Peran 34 Orang Saksi Insiden di LBH Jakarta
Kenderaan Berbahan Bakar Air Ini Bisa Tempuh Ratusan Kilometer Dalam 55 Detik Lho
Jamaah Haji Kloter 8 BTH Kabupaten Bengkalis Tiba di Kampung Halaman
Asyik Nyabu, Polisi Amankan Seorang Gaek dan Wanita Muda dari Kampung Dalam
Potensi Tanah Longsor Distrik Waropko, Masuk Data Tim Ekspedisi NKRI
Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca berhak melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Redaksi akan menilai laporan dan berhak memberi peringatan dan menutup akses terhadap pemberi komentar.