find us on : 
bank riau

Si Pedas yang Enggan Merakyat


Minggu, 20 November 2016 | 17:31:17
mnc
Ilustarsi
Medan, Oketimes.com - Cabai bukan tanaman asli Indonesia. Cabai berasal dari Meksiko, Peru, dan Bolivia, tetapi sekarang sudah tersebar di seluruh dunia. Sejak dulu, cabai digunakan setiap hari oleh hampir semua penduduk di Indonesia sebagai pelengkap masakan dan penambah cita rasa makanan.

Cabai seolah menjadi komoditas pertanian yang merakyat seperti halnya bawang merah, karena dibutuhkan oleh hampir seluruh lapisan masyarakat. Meskipun dibutuhkan oleh semua kalangan, sampai sekarang harga cabai tidak pernah mantap (fluktuatif). Harga berubah hampir setiap waktu, tergantung ketersediaan barang dan permintaan.

Jika barang tidak ada, karena iklim yang tidak mendukung, maka harga cabai dipastikan melonjak tinggi. Sebaliknya, jika barang sedang membanjir, harga menjadi turun drastis. Penurunan harga yang sangat tajam juga terjadi bila cuaca mendung dan kondisi lembab, karena mutu cabai menurun dan cabai tidak tahan lama disimpan. Seperti yang terjadi di Sumatera Utara (Sumut) saat ini.

Harga cabai dalam beberapa hari belakangan ini, sedang tinggi-tingginya. Kemarau berkepanjangan serta produktivitas rendah di sentra cabai di Sumatera Utara (Sumut) membuat produksi terus menciut. Kondisi ini menjadi dalang harga cabai melambung, karena suplai ke pasaran tidak terpenuhi. Harga kenaikannya dimulai dari Rp60.000, lalu merangkak naik menjadi Rp65.000, Rp80.000 hingga Rp100.000 per kilogramnya.

Suhendra, 37, petani cabai di Desa Pematang Jering Kecamatan Sei Suka Kabupaten Batubara, mengatakan harga cabai mahal sudah terjadi sejak September 2016 lalu. Saat itu, harganya di level Rp50.000 per kg dan terus naik hingga kini berkisar Rp65.000-Rp70.000 per kg.

"Kalau saya selaku petani menjual ke agen Rp65.000. Lalu, agennya menjual lagi ke pengecer Rp70.000. Nah, pengecer menjualnya ke pembeli lebih mahal, antara Rp80.000 sampai ada yang Rp100.000. Petani juga maunya tidak begitu, tapi karena produktivitasnya yang memang rendah, yaterpaksa menjualnya dengan harga tinggi,” papar Suhendra, yang sudah bertani cabai sejak 2010 silam ini.

Apalagi saat ini petani tidak serentak dalam melakukan penanaman cabai. Akibatnya, panennya juga tidak serentak. Dengan begitu, jumlah hasil panen juga berkurang. Ini sudah dimulai sejak April 2016. Hal itu dilakukan agar pasokan cabai terjaga dan harga tidak anjlok.

"Karena itu, di Batubara ada yang panen dan menanam maupun memupuk. Otomatis produksi pun tidak sama lagi seperti tahun-tahun sebelumnya. Misalnya, kalau saya saat ini sedang mau menanam, petani lain ada yang panen, ada yang nyemprot. Tidak serentak sehingga stok cabai juga terbatas. Ini kansupaya stok tetap ada," tandas Suhendra, yang memasok cabainya tidak hanya ke Medan, tapi juga ke Pekan Baru hingga ke Kota Padang ini.

Petani cabai lainnya, Ali Sitepu, 57, asal Kecamatan Biru-biru, Kabupaten Deli Serdang mengaku kenaikan harga cabai dikarenakan banyak petani di Kecamatan Biru-biru yang gagal panen diakibatkan hama yang merusak tanaman cabai. “Saat ini ada hama kecil seperti debu vulkanik itu yang menyerang tanaman cabai sehingga tanaman kita rusak. Tapi sekarang ini sudah kita berantas, karena kalau tidak akan habis,” kata Ali Sitepu yang sudah puluhan tahun bercocok tanam cabai rawit.

Dengan kondisi yang dialaminya, dia menaikkan harga jual cabai rawit sekitar Rp50.000 per kilogramnya. Padahal sebelumnya, dia hanya menjualnya dengan harga Rp30.000 per kilogram. "Karena hama, hasil tanaman kita juga menurun. Kalau sebelum ada hama saya bisa menghasilkan 150 sampai 350 kilo (kg) dari 1.000 pohon cabai. Tapi dengan kondisi begini, kita hanya bisa menghasilkan 100 kilo sekali panen," ungkapnya.

Mahalnya harga cabai merah ini, juga dirasakan oleh kalangan pedagang dan ibu rumah tangga. Menurut pengakuan sejumlah pedagang, selain harganya yang melambung di tingkat agen, suplainya juga tidak selancar seperti hari biasanya. Pedagang sayuran di Pasar Tradisional Sukaramai, Medan, E Sibarani mengaku terpaksa menjual cabai merah lebih mahal. Padahal sebelumnya harga cabai ini sudah turun.

"Sekarang cabai merah kita jual Rp100.000 per kg. Padahal sebelumnya kita jual sekitar Rp80.000," ujarnya. Dia memprediksi kenaikan harga cabai tersebut akan terus tinggi. Apalagi sekarang musim hujan sehingga tanaman cabai akan rusak saat dipetik. Hal senada diungkapkan pedagang sayuran di Pusat Pasar Medan, Nani, 36.

Pekan ini, suplai cabai merah tidak banyak dan harganya juga mahal. Akibatnya, pasokan cabai merah untuk dipasarkan pun dikurangi. Biasanya pasokan mencapai 15 kg, tapi sekarang hanya 5 kg. Oleh karenanya, dia menjual cabai dengan harga Rp80.000 hingga Rp100.000 per kg. Tingginya harga cabai membuat ibu-ibu rumah tangga mengaku pusing.

Bagaimana tidak, membawa uang Rp100.000 untuk belanja ke pasar tradisional saja tidak cukup. Seperti yang dikeluhkan Sulistya, 45, ibu rumah tangga warga Jalan Rakyat, Medan Perjuangan. Dia mengaku pusing dengan harga cabai yang belakangan ini sangat mahal. Untuk belanja ke pasar tradisional saja saat ini tak cukup membawa uang Rp100.000.

"Waduh pusinglah. Keluarga saya paling doyan sambal. Tapi, harga cabai mahalnya minta ampun sekarang ini. Belanja di pasar sekarang nggak cukup hanya bawa uang Rp100.000. Tapi terkadang, karena uangnya nggak cukup, terpaksa saya beli cabai merahnya dicampur sama cabai rawit. Terpaksalah mengurangi cabai. Kalau nuruti kemauan, juga nggak sanggup," ungkapnya.

Pengamat ekonomi asal Universitas Negeri Medan (Unimed) M Ishak berpendapat, kenaikan harga cabai ini sebenarnya selain kondisi cuaca juga disebabkan sudah dekat dengan hari besar keagamaan Natal. Tapi menurutnya, sebenarnya itu bukanlah suatu alasan. Yang paling urgentadalah pola distribusi pangan yang tidak baik.

"Yang harus jadi perhatian itu pola distribusi pangannya. Karena selama ini mekanisme selalu diserahkan ke pasar dan pasar yang mengaturnya. Sementara kalau pemerintah yang melakukan mekanisme, alasannya selalu dananya yang kurang. Padahal yang paling baik dalam mengurus mekanismenya, yaharusnya pemerintah," tandasnya.

Untuk mengantisipasi kenaikan harga-harga cabai ke depannya, Ishak meminta pemerintah membuat peraturan tentang distribusi cabai. Misalnya, harga maksimal cabai berapa atau menggunakan harga eceran tertinggi (HET). Tidak cukup itu, pemerintah juga harus mengontrol HET yang sudah ditetapkan, supaya apa yang direncanakan bisa terwujud.

"Daripada buat pasar murah di sana sini, kanlebih baik begitu. Karena selama ini yang terjadi mekanismenya bulat-bulat diserahkan ke pasar. Kalau begitu, yahanya orang-orang yang punya uang yang bermain harga, sedangkan yang merasakan kesulitan rakyat,"pungkasnya.***mnc.


BERITA TERKAIT:
Pemkab Siak Terima Penghargaan Pembina K3 Tingkat Provinsi Riau
Syamsuar Sumringah Terima Penghargaan Inovasi Pelayanan Publik 2017 dari Menpan-RB
Polresta Terima Penghargaan System Managemen Mutu ISO 9001
Wakil Bupati Pelalawan Terima Penghargaan Desa Wisata Awards 2017
BRK Syariah Raih Penghargaan The Most Expanding Funding UUS Aset ≤ 1.5 T
Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca berhak melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Redaksi akan menilai laporan dan berhak memberi peringatan dan menutup akses terhadap pemberi komentar.