find us on : 
bank riau
Kisah Aktivis Diserang OTK di Depan Buah Hati Mungilnya di Pekanbaru

Tangan Kiri Parulian, Jadi Perisai Buah Hatinya Lepas dari Jeratan Maut


Sabtu, 5 November 2016 | 22:21:29
fin
H Parulian Sitompul SH korban pembacokan yang dilakukan OTK saat dijenguk di Rumah sakit Bhayangkara Polda Riau Jalan Kartini Pekanbaru, Jumat (4/11/16).
Pekanbaru, Oketimes.com - Setelah enam hari dirawat di Rumah Sakit Bhayangkara Jalan Kartini Pekanbaru, keluarga korban H Parulian Sitompul SH (45), Novrita Nurhayati L Tobing (44), resmi melaporkan kasus pembacokan yang dialami suaminya itu ke Polsek Tenayan Raya, Pekanbaru melalui Ka SPKT I, Brigadir Satria DP pada 3 Nopember 2016.

Informasi ini disampaikan Parulian Sitompul saat wartawan menjenguknya di ruang bedah Rumah sakit Bhayangkara Polda Riau, Jumat (4/11/16). Dengan ditemani isteri dan satu anaknya, aktivis Lembaga Investigasi Tindak Pidana Korupsi Aparatur Negara (LITPK) RI itu, menceritakan kronologis yang menimpa dirinya di hari naas tersebut pada Jumat 28 Oktober 2016 lalu.

Parulian Sitompul korban pembacokan yang dilakukan oleh orang tak dikenal (OTK), mengutarakan awalnya dianya tak memiliki firasat buruk apapun yang akan dialaminya. Dimana kala itu, sekira pukul 07.30 WIB, usai membeli susu untuk anaknya yang masih balita dari dalam toko yang bernama Rizky Widya di Jalan Pesantren, Kecamatan Tenayan Pekanbaru.

Korban yang saat itu, tengah menaiki dan mengidupkan stater motornya seraya memeluk anak laki-lakinya yang masih balita, tiba-tiba diserang oleh orang tak kenal (OTK) sambil menentang parang sepanjang setengah meter dan mengarahkan kepadanya.           

"Bersama anak yang masih balita, saya kemudian menuju sepeda motor untuk balik ke rumah. Nah, di saat saya tengah menghidupkan sepeda motor itulah tiba-tiba Orang Tak Kenal (OTK) itu langsung menghujamankan parang sepanjang lebih kurang setengah meter ke saya," tutur korban.

Parulian menyebutkan, jika saja tangan kirinya tidak menangkis tebasan parang tersebut, maka anak yang sedang dipeluknya tersebut bisa saja mengenainya parang yang dihujamkan oleh pelaku tersebut.   

"Kalau saja tangan kiri saya tak menangkis tebasan parang itu ketika itu, saya tak tahu seperti apa nasib anak saya ini," ujar Parulian yang duduk di kursi roda seraya menunjuk anaknya yang tengah berbaring di sebelahnya, ruang bedah Rumah Sakit Bahayangkara Polda Riau.

Saat peristiwa naas itu, kata Parulian, pelaku pakai helm dan masker, mengenakan jas dan celana Levis biru dongker. Tingginya sekitar 167 cm dan rambutnya panjang bergelombang hingga sampai ke bahu. Sementara teman pelaku, tampak stand by diatas sepeda motor, ucapnya.

Parulian mengaku dirinya selama ini tak punya musuh. Sehingga ia pun tak tahu apa motif dibalik sembilan bacokan yang mengenai tubuhnya hingga mendapat 400 jahitan dari pihak Rumah sakit.

Hanya saja saat didesak soal aktivitasnya sebagai LSM selama ini, pria berpostur tinggi besar tersebut tidak menampik.

"Namanya kita aktivis, pada bulan Mei lalu saya memang ada melaporkan kasus rokok tanpa cukai ke Polda dan Bea Cukai. Hasil investigasi di Pulau Kijang Kecamatan Reteh Kabupaten Inhil. Selain itu, ada juga laporan saya ke Polres dan Pemkab Inhu, terkait aktivitas Penambangan Emas Tanpa Ijin (PETI) setahun lalu," ungkanya.

Selain itu, dia juga mengutarakan berkemungkianan motif lainnya adalah soal penampungan minyak ilegal milik Pertamina di Jalan Hangtuah Ujung, tepatnya di Pasar Tangor Kecamatan Tenayan Pekanbaru, Riau.

Meski demikian dari serangkaian aktivitasnya itu, kasus yang menimpanya ini dia serahkan sepenuhnya kepada pihak Kepolisian, untuk diusut secara tuntas sesuai hukum yang berlaku, harapnya.

Terpisah, Kanit Reskrim Polsek Tenayan Raya, Ipda Sumaiman saat dikonfirmasikan belum lama ini mengaku masih terus melakukan pemngusutan terkait peristiwa tersebut. (fin/ars)

BERITA TERKAIT:
Bawa 1 Ons Sabu, Warga Aaek Nabara Tertangkap Tangan di Duri
Ketua DPRD Bengkalis Bersama Bupati Tandatangani KUPA-PPAS
Lirik Cup I Jadi Perhatian Politik
Kapolri Akui Banyak Polisi Beprestasi Kerja Setengah Hati
Tali Jemuran Maut Ini, Jadi Pemisah Pasutri di Dumai
Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca berhak melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Redaksi akan menilai laporan dan berhak memberi peringatan dan menutup akses terhadap pemberi komentar.